Sampai Maut Memisahkan….
November 3rd, 2009 by welcome-to-myworldnote : sama kayak yang udah saya posting di FB, buat yang ga punya FB ya baca ini.. yang punya FB connect ke saya…sama aja kok, hehe… sedikit renungan sajah…
Sekitar 2 hari yang lalu, saya melihat sesuatu hal yang menurut saya, it was amazing, dan membuat saya lebih memahami arti cinta, memiliki, dan kehilangan.
Yup.. 2 hari yang lalu, seorang kolega senior saya meninggal dunia. Beliau adalah orang yang berdedikasi tinggi bagi dunia pendidikan, khususnya bagi almamater dan tempat saya mengabdikan diri saat ini, farmasi unair. Dari apa yang saya dengar, beliau collapse setiba di rumah, setelah sorenya menguji seorang kandidat doktor, dan beberapa jam sebelumnya baru tiba dari Malaysia untuk urusan kerja. Dan kecintaan yang begitu besar pada almamater membuat beliau tetap memikirkan masa depan kampus padahal sedang terbaring di ICU. Mungkin ini yang benar-benar disebut love your work that much, bahkan bisa dibilang, painted in your heart, engraved in your bone (alm. Prof. Muh. Mulja, jaman saya kuliah kromatografi dulu ).
Tapi bukan itu yang ingin saya tulis disini. Tapi apa yang saya lihat dan rasakan pada detik-detik terakhir saat jenazah kolega saya disemayamkan di fakultas farmasi untuk penghormatan terakhir. Sebelumnya saya memang dengar dari rekan saya, bahwa istri beliau langsung shock dan masuk ICU ketika mengetahui bahwa suami tercintanya telah tiada setelah 5 hari berjuang di ICU. Semua yang hadir berpikir, bahwa ngga mungkin sang nyonya akan hadir karena masih dirawat di ICU. Tapi yang membuat kami semua ternganga, ngga bisa berkata-kata, bahkan ada tangis haru yang langsung tumpah , adalah ketika kami menyaksikan ambulance ke-2 datang beberapa saat setelah keranda sang kolega tiba di farmasi. Ya..ambulance ke-2 mengantarkan sang istri, yang bersikeras ada di samping suaminya sampai detik-detik terakhir, walaupun harus terbaring di atas ranjang rumah sakit (saya ngga tau apa namanya, tapi yang baca bisa bayangkan lah…yang biasa dibuat untuk membawa orang sakit ke ruangan itu…). Kami semua benar-benar terharu, terdiam,ngga bisa berkata-kata. Jadi di samping keranda, hanya berjarak beberapa meter saja (mungkin ga ada semester? ), ada sang istri di atas ranjang rumah sakit. Dan pandangan matanya tidak pernah lepas dari keranda sang suami. Di dalam mata hati dan pikiran saya, hanya terpikir satu hal : mencintai sampai maut memisahkan, bahkan maut pun tidak bisa memisahkan dan melunturkan cinta dan kesetiaan.
Saya memang tidak mengantar sampai ke pemakaman, karena setelah acara penghormatan terakhir di kampus, saya langsung ke acara pernikahan putri salah seorang kolega saya (dari fakultas yang sama). Tapi buat saya, it was extraordinary, peculiar, to have a funeral and a wedding in one day, consecutively. Kenapa? Karena saya melihat semuanya seolah twisted, terbalik, tapi merupakan proses hidup. Di acara pernikahan, saya melihat dan merasakan kebahagiaan dua hati yang baru saja memulai (bahkan mereka mendapat piala bergilir tradisi anak2 kedokteran unair yangakhirnya melepas masa lajang) dan jelasnya, baru saja memulai menapaki kehidupan baru yang tidak selamanya indah, dan benar-benar akan menguji cinta dan kesetiaan yang mereka miliki.. Sedangkan di acara penghormatan terakhir yang saya hadirisebelumnya, saya melihat kekuatan cinta yang telah teruji, bahwa apapun yang terjadi, “saya akan tetap berada di sisimu, for better or worse, forever and ever”. Dan betapa istri kolega saya tersebut tidak mau menyerah pada keadaan, untuk mengantarkan kekasih hati menuju tempat terakhir, sampai nanti mereka akhirnya akan bertemu kembali di Surga. Walaupun banyak juga yang bilang bahwa sang istri tidak siap kehilangan sang suami tercinta, sehingga amat sangat sulit menerima kenyataan. Tapi buat saya, justru tidak. Memang, mungkin sang nyonya tidak siap, tapi di satu sisi, rasa cinta yang besar membuatnya berjuang untuk apapun yang terjadi, dia ada di samping suaminya.
Ada satu pelajaran berharga lain yang saya petik… bahwa ketika kita mencintai seseorang, dan menerima cinta dari orang lain, bukan berarti kita akan memilikinya selamanya. Kita harus tetap bersiap untuk kehilangan cinta itu, dengan cara yang mungkin kita nggak tahu. Ketika kita mencintai, kita memberikan dengan segenap hati dan jiwa, termasuk juga mempersiapkan diri untuk ditinggalkan. Segala hal ada konsekuensinya, ada resikonya. Jadi terkadang saya pikir, mungkin, di satu sisi, patah hati dan ditinggal pergi orang yang kita cintai dalam masa pacaran atau penjajakan, adalah suatu terapi yang baik, untuk bisa lebih siap di masa depan. Setidaknya, kita menjadi lebih memahami dan memaknai arti cinta, termasuk resiko dari cinta itu. Mungkin juga apa yang saya lihat dari segala peristiwa di hari Minggu yang lalu, adalah perwujudan dari “bersama untuk selamanya” kalau boleh meminjam istilah salah seorang teman.
Well, sampai hari ini, saya memang belum beruntung menemukan cinta sejati saya…but eventually, I know I will… segala proses yang harus saya jalani, segala peristiwa kehidupan yang saya lalui, segala cerita cinta yang saya lihat, dengar, dan pelajari dari orang-orang di sekitar saya, membuat saya belajar untuk lebih menghargai hidup, memahami arti mencintai tanpa syarat, berbuat lebih baik lagi dalam mencintai setelah belajar dari kesalahan yang lalu, termasuk ketika kita sakit karena cinta, dan harus rela cinta itu pergi untuk mungkin digantikan cinta yang lain, which iscinta terakhir, terbaik, dan selamanya. Cinta yang sejati adalah cinta yang teruji, memaafkan ketika tersakiti, memahami ketika kebimbangan datang, dan menemani sampai akhir. Till death do us part..butbelieve that we will be together again