Sampai Maut Memisahkan….

November 3rd, 2009 by welcome-to-myworld

note : sama kayak yang udah saya posting di FB, buat yang ga punya FB ya baca ini.. yang punya FB connect ke saya…sama aja kok, hehe… sedikit renungan sajah…

Sekitar 2 hari yang lalu, saya melihat sesuatu hal yang menurut saya, it was amazing, dan membuat saya lebih memahami arti cinta, memiliki, dan kehilangan.

Yup.. 2 hari yang lalu, seorang kolega senior saya meninggal dunia. Beliau adalah orang yang berdedikasi tinggi bagi dunia pendidikan, khususnya bagi almamater dan tempat saya mengabdikan diri saat ini, farmasi unair. Dari apa yang saya dengar, beliau collapse setiba di rumah, setelah sorenya menguji seorang kandidat doktor, dan beberapa jam sebelumnya baru tiba dari Malaysia untuk urusan kerja. Dan kecintaan yang begitu besar pada almamater membuat beliau tetap memikirkan masa depan kampus padahal sedang terbaring di ICU. Mungkin ini yang benar-benar disebut love your work that much, bahkan bisa dibilang, painted in your heart, engraved in your bone (alm. Prof. Muh. Mulja, jaman saya kuliah kromatografi dulu ).

Tapi bukan itu yang ingin saya tulis disini. Tapi apa yang saya lihat dan rasakan pada detik-detik terakhir saat jenazah kolega saya disemayamkan di fakultas farmasi untuk penghormatan terakhir. Sebelumnya saya memang dengar dari rekan saya, bahwa istri beliau langsung shock dan masuk ICU ketika mengetahui bahwa suami tercintanya telah tiada setelah 5 hari berjuang di ICU. Semua yang hadir berpikir, bahwa ngga mungkin sang nyonya akan hadir karena masih dirawat di ICU. Tapi yang membuat kami semua ternganga, ngga bisa berkata-kata, bahkan ada tangis haru yang langsung tumpah , adalah ketika kami menyaksikan ambulance ke-2 datang beberapa saat setelah keranda sang kolega tiba di farmasi. Ya..ambulance ke-2 mengantarkan sang istri, yang bersikeras ada di samping suaminya sampai detik-detik terakhir, walaupun harus terbaring di atas ranjang rumah sakit (saya ngga tau apa namanya, tapi yang baca bisa bayangkan lah…yang biasa dibuat untuk membawa orang sakit ke ruangan itu…). Kami semua benar-benar terharu, terdiam,ngga bisa berkata-kata. Jadi di samping keranda, hanya berjarak beberapa meter saja (mungkin ga ada semester? ), ada sang istri di atas ranjang rumah sakit. Dan pandangan matanya tidak pernah lepas dari keranda sang suami. Di dalam mata hati dan pikiran saya, hanya terpikir satu hal : mencintai sampai maut memisahkan, bahkan maut pun tidak bisa memisahkan dan melunturkan cinta dan kesetiaan.

Saya memang tidak mengantar sampai ke pemakaman, karena setelah acara penghormatan terakhir di kampus, saya langsung ke acara pernikahan putri salah seorang kolega saya (dari fakultas yang sama). Tapi buat saya, it was extraordinary, peculiar, to have a funeral and a wedding in one day, consecutively. Kenapa? Karena saya melihat semuanya seolah twisted, terbalik, tapi merupakan proses hidup. Di acara pernikahan, saya melihat dan merasakan kebahagiaan dua hati yang baru saja memulai (bahkan mereka mendapat piala bergilir tradisi anak2 kedokteran unair yangakhirnya melepas masa lajang) dan jelasnya, baru saja memulai menapaki kehidupan baru yang tidak selamanya indah, dan benar-benar akan menguji cinta dan kesetiaan yang mereka miliki.. Sedangkan di acara penghormatan terakhir yang saya hadirisebelumnya, saya melihat kekuatan cinta yang telah teruji, bahwa apapun yang terjadi, “saya akan tetap berada di sisimu, for better or worse, forever and ever”. Dan betapa istri kolega saya tersebut tidak mau menyerah pada keadaan, untuk mengantarkan kekasih hati menuju tempat terakhir, sampai nanti mereka akhirnya akan bertemu kembali di Surga. Walaupun banyak juga yang bilang bahwa sang istri tidak siap kehilangan sang suami tercinta, sehingga amat sangat sulit menerima kenyataan. Tapi buat saya, justru tidak. Memang, mungkin sang nyonya tidak siap, tapi di satu sisi, rasa cinta yang besar membuatnya berjuang untuk apapun yang terjadi, dia ada di samping suaminya.

Ada satu pelajaran berharga lain yang saya petik… bahwa ketika kita mencintai seseorang, dan menerima cinta dari orang lain, bukan berarti kita akan memilikinya selamanya. Kita harus tetap bersiap untuk kehilangan cinta itu, dengan cara yang mungkin kita nggak tahu. Ketika kita mencintai, kita memberikan dengan segenap hati dan jiwa, termasuk juga mempersiapkan diri untuk ditinggalkan. Segala hal ada konsekuensinya, ada resikonya. Jadi terkadang saya pikir, mungkin, di satu sisi, patah hati dan ditinggal pergi orang yang kita cintai dalam masa pacaran atau penjajakan, adalah suatu terapi yang baik, untuk bisa lebih siap di masa depan. Setidaknya, kita menjadi lebih memahami dan memaknai arti cinta, termasuk resiko dari cinta itu. Mungkin juga apa yang saya lihat dari segala peristiwa di hari Minggu yang lalu, adalah perwujudan dari “bersama untuk selamanya” kalau boleh meminjam istilah salah seorang teman.

Well, sampai hari ini, saya memang belum beruntung menemukan cinta sejati saya…but eventually, I know I will… segala proses yang harus saya jalani, segala peristiwa kehidupan yang saya lalui, segala cerita cinta yang saya lihat, dengar, dan pelajari dari orang-orang di sekitar saya, membuat saya belajar untuk lebih menghargai hidup, memahami arti mencintai tanpa syarat, berbuat lebih baik lagi dalam mencintai setelah belajar dari kesalahan yang lalu, termasuk ketika kita sakit karena cinta, dan harus rela cinta itu pergi untuk mungkin digantikan cinta yang lain, which iscinta terakhir, terbaik, dan selamanya. Cinta yang sejati adalah cinta yang teruji, memaafkan ketika tersakiti, memahami ketika kebimbangan datang, dan menemani sampai akhir. Till death do us part..butbelieve that we will be together again

My Best Friend’s Wedding

August 3rd, 2009 by welcome-to-myworld

Yesterday, I attended a wedding ceremonial in the church. Not just a common wedding, but it was my best friend’s wedding. Unlike other weddings that I’ve ever attended, this was different, because she’s my best friend since we were on high school. And probably, the togetherness that we have, made me almost cried when she said the marriage promise, so loud and clear, doubtless. It was a happiness cry, which made my tears nearly dropped. Back to the years ago, I just could not believe that finally she made it. I still remember the day when we first met on high school, and it was naturally happened that we made friends for years, although after high school, we went to the different university. And we’ve been through the happiness and sad things about relationship, but of course, different version between me and her. I still remember when we were probably just 16 or 17 years old. The three of us (me and two of my best friends, her and the other one), we gathered in her room (my best friend’s bedroom). It was at the end of our school year. We shared our thought, our plans for the future. I couldn’t really recall what I was saying, but if I’m not mistaken, I think I was the one who said that I would like to get married around 23-25 (in which, I didn’t make it). My best friends, one was saying she would like to get married soon before the dooms day (she’s a strict Christian), and one (who just got married yesterday), she said she would like to get married around 25. But from the three of us, only one who can keep on her will, the one who wanted to get married before the dooms day. And we’re not surprised since she’s the one who already had boy friend when we were on high school (although she did marry another guy, not her boy friend at school). Well, back to my best friend, the newly wed. When I was in Oz, we were still in touch through text messages. And at that time, she told me that she was in love with someone, but unfortunately, this guy worked in different city, so they had to do the long distance relationship. Years before, she ever had a relationship with someone whom she loved much but her parents did not agree, and finally, they broke up. After that, she was trying to make relationship, but none was working well. When I went home last year, after finishing my study, she told me that she didn’t even want to think about marriage, and felt that her life is just okay without love. Yeap, almost similar with me, need to love and to be loved, but not really craving for that. And we decided …okay, let the love does its magic. If the time comes, it will naturally happened.

When I met her again around May this year, she told me that she already found someone. And actually, I got surprised. But from her eyes, I knew that she did love him, and already got the chemistry. I knew her for years, and from the way she told me, she was definitely in love and not doubting him at all !!! and she told me that she did understand why her parents worry that she’ll be single forever (in which, that might be a curse !!! ). And around June, I heard the wonderful news that they’re going to get married. Well, I did surprise, that’s pretty quick, but…hey…when love does work, you do not need more time to think cause you’re just sure that you’re doing the right thing and make the right decision for the rest of your life. The funny thing is that her husband now was her former friend at elementary school. That’s amazing !!! for years, they’ve never been in contact even though they can be considered as neighbors. Her husband’s house and her parents’ former house just separated meters away(note: couple of years after finishing high school, my best friend and her family moved to another house on different location, but still in Surabaya). And one day, this guy walked into the bank where she works since it happened that this guy had a thing to do with the bank, and voilaaa…. they started the relationship. Wonderful!! (Although I did suspicious that their parents might set this up, hehehe, just a devil’s thought!!!  you know…parents… you may think you’re smarter than them, but they can even be smarter and trickier than you !!! )…

okay, apart from the conspiration theory, the point is…. The chemistry did work !!! Well, the moral of the story is….we never know who’s gonna be our destiny, with whom we’re gonna spend the rest of our life. Could be someone who’s actually just near us, probably few meters away but we never realized that, not until God makes it happened. Or probably, someone who’s thousand miles away from us. Or even…someone from the past and suddenly back again to color our life ? or someone whom we’re going to meet in another 5 minutes? Nobody knows. And when you already gave up but you still have hope, God’s hand will work, of course, with His amazing way. Even though I was little bit mellow bout this but…definitely, I’m happy for her. I’m probably the one who’s still on the row, waiting for my turn to say the marriage vow, to have someone to grow old together. But surely… I do believe that my turn will come, and love does work with its amazing way  !!! Wish you all the best, my beloved friend. May both of you always love each other in happiness and sorrow, till death do its part !!!

Ps: now I understand the meaning of ‘blessing in disguise’, why I couldn’t continue my PhD straight away after having my master finished,  and have to wait and apply for another scholarship, and have to stay for the whole 2009 back home. I just count that I already attended 3 weddings, a funeral (of my uncle, my dad’s cousin actually), and an upcoming wedding at the end of this year-my 3rd cousin’s wedding. Hmm… it’s just like a movie title : Four Weddings and A Funeral !!!! Wait…not  4, but it’s already 6 !! 2 are the wedding of my office mate. Awesome !!!

Institution Sucks !!!

June 1st, 2009 by welcome-to-myworld

Saya ngga tau apa saya mesti bertahan dengan idealisme saya ‘membangun negara memajukan bangsa’ ataukah harus hengkang dan ‘go to hell’ and say goodbye to this silly sucks situation.. Yang jelas, sejak saya balik ke tanah air dan balik ke institusi tempat kerja saya sebelumnya (ga perlu disebut), saya ditantang atau tepatnya, terpaksa, berurusan dengan birokrasi yang njlimet dan mbulet untuk memperjuangkan hak saya, yang membuat saya diposisikan untuk mengemis-ngemis apa yang jadi hak saya. Ini karena peraturan diknas (yang ga jelas juga UUnya sbelah mana dan kayaknya cuman dedemit yang tau aturan tertulisnya kayak apa), yang memotong gaji staff selama bertugas belajar ke luar negeri dan berstatus single, sebesar 50%. Yang lebih parah lagi, ketika kembali, gaji itu tidak otomatis kembali melainkan kami harus mengurus surat yang penuh jalan berliku.

Ntah apa salah dan dosa saya (?) proses yang normalnya hanya 3 bulan, pas di saya jadi lama karena ternyata surat dihilangkan Diknas, dan tidak ada kerjasama yang baik antara dinas dan institusi saya (padahal kata orang rektorat, ngakunya mereka tiap bulan memonitor ke jakarta, ntah apaan yang dimonitor ). Dan pengalaman serupa juga dialami beberapa rekan di institusi yang sama hanya beda fakultas, dan adanya kesamaan ‘faktor x’ diantara kami, membuat saya jadi bertanya-tanya soal adanya issue diskriminasi. Lebih menyebalkan lagi, turunnya surat juga tidak membuat gaji otomatis penuh karena masih harus ada regulasi ini itu dan akhirnya masuk ke ranah istilah ‘rapelan’. Jadi kalo surat itu tertanggal april, gaji penuh bukannya langsung Mei tapi masih nunggu Juli. Padahal kami sudah langsung bertugas penuh, dikuatkan dengan surat pernyataan dari fakultas bahwa kami bertugas lagi sejak agustus malahan. Hanya karena kesalahan diknas, kami yang dikorbankan menerima SK bertanggal april.  OMG, this is nightmare !!!

yang lebih bikin saya murka, pihak universitas tempat saya bekerja juga seolah-olah ‘menutup mata’ (syukur2 ga mati aja sekalian !!!) dengan masalah kami. Kalau di tempat lain mereka mau membayarkan gaji yang dipotong (jadi kayak patungan dengan diknas), disini mereka dengan seenak jidat lepas tanggung jawab.

Saya jujur jadi bertanya pada diri saya sendiri .. apakah saya harus bertahan dengan kemungkinan bahwa mungkin aja ke depan jalan saya dipersulit dengan segala isu diskriminasi ini? atau saya hengkang ke tempat lain? di negara orang, saya tidak pernah diperlakukan seperti ini, diombang-ambingkan haknya, dan dengan orang2 yang harusnya melaksanakan tugasnya malah cenderung saling lempar tanggung jawab. Tapi kalau tempat ini memang butuh saya, tapi tidak menghargai saya sebagaimana mestinya, should I stay?  It’s about getting what I should deserve to get. Mereka punya segudang rencana untuk menjadi universitas bertaraf internasional, tapi mengurusi SDM saja tidak becus. Dan jujur, ini dilema berat buat saya. salah satu teman dekat saya pernah bilang bahwa saya sebenernya sudah punya fondasi karier yang bagus, tapi dengan apa yang harus saya hadapi dan tantangan ‘diskriminasi terselubung’.. maybe I have to think twice, considering the best and the worse case scenario, and decide. Tapi yang jelas, hari ini saya sudah bener-bener ga tahan dengan sikap orang-orang kepegawaian fakultas yang bikin saya emosi berat. apalagi si Pak Gundul yang responnya bikin saya pengen ngejitak kepala gundulnya itu biar mblesek sekalian.. Dan dengan segudang cita-cita institusi tempat saya bekerja (yang menurut saya antara cita-cita dan usaha serta kenyataan adalah ga balance, kalo bisa dibilang, di awang-awang, day dreaming mulu), seharusnya SDM adalah sumber kekuatan utama, dan bukannya disia-siakan. Dan buat karyawan-karyawan admin itu, kayaknya mereka perlu dikirim kursus ke JRP biar bisa lebih beradab dan kalo ngomong pake mikir !!!!!!!!

Mahasiswa…dulu dan sekarang…

May 1st, 2009 by welcome-to-myworld

Hidup selalu berubah ! itu adalah fakta yang tidak bisa dibantah. Sekonvensional apapun kita, pasti ada yang berubah dari kita. Yah, kalo tinggi badan ga bisa diubah (maksudnya selewat 22 tahun, kalo gasalah..menurut pelajaran biologi), wajah ga bisa diubah (kecuali operasi plastik) pasti ada yang berubah. Perubahan status setidaknya, dari siswa SMA jadi mahasiswa trus jadi karyawan, pegawe, pengusaha, what so ever. Nah, bicara soal berubah…berubah… kalau saya amat-amati, mahasiswa dulu (dulu tuh maksudnya jaman saya, tidak lebih dari jaman saya, ya maksimal 2-3 tahun lebih dulu dari jaman saya) ..soal baju, mungkin standar ya… sudah kodratnya anak farmasi ga bisa terlalu fashionable kalo sudah kena praktikum. Tapi tetep acceptable, bahkan mahasiswi-mahasiswinya lebih modis dibanding jaman saya, lebih girlie lah. Kalo jaman saya, jarang-jarang yang berdandan girlie. Buat teman saya tersayang, Jeng Ditta… how girlie were you? Hehehe….

Nah, soal tentengan… ini jelas beda. Tentengan maksudnya tuh gadget lah. Jaman saya dulu, HP masih item putih ring tone monofonik. Trus pilihannya kalo gak Nokia 3310 or 3330 ya Ericsson (blom jadian sama Sony) T10 ato T18 kalo gasalah. Itu juga sudah kemajuan dari tipe Nokia pisang yang bisa dipake nyambit kucing. Punya HP juga seangkatan bisa diitung jari, palingan ga lebih dari 5. HP mulai banyak ‘bergentayangan’ kira-kira tahun 2001an lah. HP polifonik mulai ada kalo gasalah tahun 2002-2003an gitu. Inget banget soalnya jaman tahun segitu nganterin Jeng Ditta (again) beli HP di WTC yang kalo gasalah mereknya Siemens ya? Trus mulai ada jaman-jaman ngisiin ring tone, secara hp dah mulai polifonik. Booming HP warna kalo gasalah 2003an juga, trus mulai deh, muncul macem-macem aksesori dengan tambahan kamera lah, radio lah. Ngga inget persis kapan HP yang bisa diisiin lagu2 MP3 muncul. Yang jelas, soal HP, saya termasuk konvensional alias ga beli kalo ga dapet musibah yang menyebabkan hp saya ‘malfunction’ hehehe..Naahh…bicara soal HP, jaman sekarang, ga ada mahasiswa yang ga punya HP. Dan kalopun punya, minimal layar berwarna dengan ringtone yang jelas tidak monofonik. Dan pastinya, berkamera, ntah brapa MP, bin kemampuan ngrekam suara maupun gambar alias video. Nah, namanya juga mahasiswa, kreativitas pasti lah tinggi. Dengan HP multifungsi, yang saya amati sering sekali dipergunakan oleh mereka adalah :

  1. Merekam kuliah baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Wah, dosen jadi kayak artis deh… pake rekaman segala ….mungkin yang sembunyi-sembunyi tuh takut kalo nanti dosennya bilang : no comment..no comment instead of nerangin materi kuliah (meaning ???? )
  2. Menggantikan fungsi fotokopi. Ga percaya? Mahasiswa yang praktikum di lab Tekno, secara mereka ga diijinkan membawa keluar textbook buat dikopi, maka mereka mengakali dengan memotret halaman per halaman. Ga tau juga hasilnya kayak apa, tapi pas saya iseng nanya, mereka bilang : “ bisa kok , Bu.. bisa dilihat dan dibaca hasilnya”. Dalam hati saya : cerdas kau, Nak ;pbandingkan dengan jaman saya yang mesti main ‘kucing-kucingan’ nyelundupin buku buat dikopi (jadi lupa, sapa ya yang dulu kong kalikong ma saya ngibulin dosen buat bisa ngopi buku di lab Tekno? Hmmm….wkekekekeke…..)
  3. Mengabadikan ‘saat-saat sengsara’ di lab sekaligus mengamalkan jiwa narsis. Gak percaya? Ini paling banyak kalo praktikum steril ato solida yang waktunya panjang trus ngerjakannya berkelompok. Kalo sudah gini, dosen turun tangan untuk menghentikan kegiatan pemotretan ilegal (ilegal photo session), dan menolak kalo diajak ber’poto session’ (biarpun sbenernya pengen juga,wkakakaka…narsisss…)
  4. Memfoto alat-alat lab untuk memperindah laporan (khususnya laporan yang ada pembahasan soal instrument lab). Bayangkan kalo jaman saya dulu, udah motretnya pake kamera yang pake roll film, blom lagi kalo ngga jadi, kebakar ato apa, trus mesti cetak poto pula, nunggunya minimal 30 menit paling cepet kilat petir.

Gadget wajib kedua adalah : laptop. Yah, namanya juga kemajuan jaman, di seantero kampus bisa seenak jidat akses WIFI asal modal laptop ber-WIFI. Yang ga punya, bisa ngenet di warnet2 terdekat yang full AC. Tapi itu juga jarang. Laptop bukan barang mahal lagi (yang belinya ga usah pake nyicil kayak saya, waktu udah kerja jadi dosen pula, gara-gara mo ‘minggat’ ke oz pula…hihihi….). Bandingkan dengan jaman saya dulu…sudah internet kampus yang terbatas itu lemott banget, diakses jam tertentu saja, trus ada satu kakak kelas yang hobinya ngendon di depan kompi yang berinternet tapi ga jelas ngapain (yang seangkatan sama saya di FF pasti tahu deh.. ingat lah minimal…you know him,wkekekeke….). trus warnet terdekat juga biarpun ada AC juga minim banget hembusannya. Yah, itulah kemajuan jaman. Trus nyimpen data juga tinggal modal USB yang sekarang diobral murah meriah. Ato kalo masih kemahalan, bisa pake CD RW. Kalo jaman saya dulu sih… disket lah… dengan catatan : jauhkan dari jangkauan benda bermagnet , otherwise…ada loh yang punya ‘trauma masa lalu’ dengan disket…hihihi… Trus bukanya di computer rumah. Trus, ga paham juga ngupdate antivirus itu kayak apa. Parah deh .

Yah, itulah kemajuan jaman. Asal dipake buat positif sih gak apa-apa, dan kerjaan utama terselesaikan. Ada akses WIFI gratis, apalagi yang buat dosen jelas lebih cepet dari buat mahasiswa, jadi harusnya bisa lebih giat bekerja dan ngga gaptek. Minimal bisa buat bikin blog di FS, buat buka FS or FB, en chatting…. Wkekekekeke…..

Udah ah…waktunya pulang… udah sore

(psssttt… inilah rahasianya kenapa saya betah kerja sampe sore, 9 to 5,salah ding…10 to 5,wkakakaka… soalnya…bisa ngenet gratis, tidak ada website yang diblok,  trus acceptable lah kecepatannya…ga secepet di oz se, but…not bad lah…hihihi….)…

byee…

LINGO TECH

May 1st, 2009 by welcome-to-myworld

Note : nontonnya dah lama se, pas jaman Unas anak SMA kemaren, hehehe…

Waktu pertama baca posternya di tempat kursus, sempat bertanya-tanya, apaan sih ini ? judulnya  ‘ LINGO TECH” trus ada keterangan ‘konser bersama Uwe Kind-musik, tari bahasa Jerman dengan rap techno dan pop: belajar bahasa Jerman menjadi semakin asyik!’

Sebenarnya sih saya antara tertarik dan tidak, cuma setelah guru kelas saya bilang bahwa ini adalah konser ada nyanyian, tarian, dsb, saya penasaran juga. Pemahaman saya : oo..ini konser musik bahasa Jerman, ada grup musik, ada grup tari. Ya seperti konser-konser budaya , macem festival gitu lah. Maka begitu mendengar berita gembira bahwa saya gak jadi ditugaskan jaga UNAS (lagian juga…dosen jagain UNAS..hmpf…parah sekali system pendidikan di Indonesia ini sampe universitas harus turun tangan..what a shame..) saya putuskan : ok.. saya datang ke acara ini…senin siang jam 1 di gedung Cak Durasim.

Biarpun sudah diberitahu bahwa Gedung Cak Durasim itu satu kompleks dengan Taman Budaya Jatim (TBJ) jalanGentengkali (dan saya yakin saya tahu tempatnya), ga tau kenapa habit ‘nyasar’ saya tidak kunjung sembuh. Bukan salah saya 100% sih , soalnya di tiket tulisannya : Jalan Gentengkali 8, sedangkan TBJ itu nomor 85. Jadi salah siapa ya? Hmm… Akhirnya saya kelewatan TBJ, berhenti di depan gedung Balai Sahabat (untungnya blom kelewat jauh). Sempet bimbang karena saya yakin ga mungkin Cak Durasim itu di seberang jalan yang ke arah Undaan atopun setidaknya dipindah ke seberang sungai, akhirnya saya turun dari mobil dan tanya ke warung dekat situ. Dan waktu saya nanya gedung Cak Durasim itu dimana, bapak-bapak yang punya warung itu kayaknya agak amazed juga dengan pertanyaan saya, dan bilang : lah, itu di sebelah mbak, di dalamnya TBJ. Hmpf… bener kan… sapa sih yang bikin undangan? Salah nomor pula, huh….Setelah mundur beberapa meter (untung jalanan ga gitu rame), saya langsung belok ke Balai Sahabat,nebeng parkir. Sudah gitu, pintu yang saya masuki itu tulisannya jelas-jelas “PINTU KELUAR”. Untung Cuma pagar biasa jadi bisa diterabas. Yah, mo gimana lagi, mo mundur lebih jauh sampe ke pintu masuknya sih kejauhan, bisa-bisa malah nabrak warung di belakang saya(secara radar mundur saya agak kacau…biasa…penyakit wanita…hehehe….). Pas saya turun dari mobil, ada 2 bapak penjaga yang lagi duduk-duduk di depan pintu gedung Balai Sahabat yang melihat saya dengan pandangan bengong. Dan saya dengan sok pede langsung bilang : Pak, gedung Cak Durasim di sebelah ya? Saya boleh ya, Pak parkir disini?… si Bapak itu cuma bengong memandang saya sebelum akhirnya ngeh dan menjawab: oh, boleh..boleh, mbak..boleh aja. Langsung deh saya ngacir, secara saya sudah telat 30 menit dari acara. Sebodo amat ah mereka pikir saya buta huruf kali ye….(tapi ga mungkin deh buta huruf punya SIM, kecuali SIM-nya nembak,wkekekeke…..)

Pas masuk ke dalam gedung… weleh… selain acara sudah mulai..penontonnya..bow… ABG-ABG semua. Dan bayangan saya soal konser adalah salah. Saya berasa lagi di acara show anak TK. Kenapa ? karena ternyata sepanjang acara adalah belajar bahasa Jerman lewat nyanyian. Jadi ada gerakan mengayunkan tangan, melambai-lambai, goyang pinggul ke kanan dan ke kiri, tapi semua instruksi dalam bahasa Jerman. Trus pake lagu-lagu sederhana. Persis kayak acara anak TK, ato ya setidaknya acara OSPEK jaman SMA gitu deh. Dan pesertanya yang 99% (mungkin saya termasuk yang 1% ato malah 0.5%) adalah ABG. Ada juga mahasiswa-mahasiswa bahasa Jerman Unesa, tapi notabene semua under 25. Weleh… salah masuk nih… Biarpun awalnya agak bengong, tapi akhirnya ikut juga. Asyik juga belajar bahasa lewat musik dan gerakan. Biarpun bagi saya agak garing (biasa lah, konsumsi dewasa sama ABG kan beda…;p)akhirnya saya enjoy aja ikut menari-nari, nyanyi-nyanyi. Trus ada vocabularies soal kata sifat dalam bahasa Jerman, trus nyanyian yang isinya semua pake artikel Der (di bahasa Jerman, mereka masih ikut system latin ada artikel dan istilah kata feminine, maskulin, neutral). Jadi ceritanya kita mo pergi bawa koper, naik kereta ke stasiun trus ke Bandar udara buat naik pesawat, trus makan nasi, makan salad, makan ikan (der Koffer, der Bahnof, der Zug, der Flughafen, der Flug, der Rice, der Salad, der Fish). Ya gitulah… Yang ngajarin juga Cuma satu orang dengan iringan CD dan bantuan LCD projector, beberapa lagu dengan berbagai irama (rap, jazz, slow, rock). Ya itu yang namanya Uwe Kind. Dia yang nyiptakan semua lagu itu, dan dia sudah bertahun-tahun ngajar bahasa Jerman di New York. Tapi kalo dipikir-pikir, memang belajar bahasa itu lebih fun dan gampang diingat lewat nyanyian biarpun yang konyol-konyol. Apalagi buat saya, yang seiring dengan pertambahan usia maka kapasitas internal harddisk perlu diupgrade, didefrag, dipartisi…whatever deh… Dan jujur, saya salut dengan pekerjaan guru bahasa. Kenapa? Untuk membuat siswa suka dan paham dengan bahasa, ga Cuma dengan diberikan rumus grammar yang bikin pusing, ato bacaaan singkat yang kadang juga membingungkan. Tapi membuat suasana fun itu yang susah. Apalagi kalo murid-muridnya masih anak-anak atopun ABG. Jadi inget sepupu saya yang ngeluh kalo ngajarin bahasa mandarin buat anak SD lebih susah daripada ABG apalagi dengan attitude mereka yang kalo dimarahin karena bandel trus dikit-dikit lapor mami , mending juga kalo yang dilaporin sesuai kejadian (salut buat sepupu saya yang satu ini deh…yang denger-denger akhirnya pake media musik untuk menaklukkan mereka, bener gak, Din? ). Jadi inget juga dengan guru bahasa Inggris saya pas SMA, yang orangnya bener-bener garing en ga da asyik-asyiknya, tapi bisa membuat kita tertarik belajarbahasa Inggris pas dia bawa gitar en nyanyi bareng (dan melupakan bahasa Inggris aksen Floresnya yang medhok…jadi inget Pak Guido, guru bahasa Inggris saya dulu…how are you, Sir ? ). Ato jadi inget satu guru baru pas saya SMP dulu, guru Inggris juga, yang buat memperkenalkan macem-macem vocab ngebawa satu tas gede dan bikin dia jadi mirip sales, isinya yang saya paling inget adalah : shoes…alias sepatu !!! serius, dari semua guru bahasa, cuma guru satu ini yang ajaib dengan Charlie Chaplin style-nya, biarpun cuma bertahan ngajar di sekolah kami hanya setahun. Ato guru bahasa Inggris saya pas kelas persiapan bahasa sebelum ke Oz dulu , yang mengajarkan bahasa beserta grammar tingkat tinggi yang mbulet lewat puisi-puisi lucunya ato cerita-cerita konyolnya plus atraksi boneka monyet yang bisa main drum band dan mainan ‘abang tukang bakso’ yang kalo kenopnya diputer trus gerobak kecilnya jalan dan keluarlah lagu abang tukang bakso. Jadi mikir juga… apa nanti pas saya ngajar solida topic kapsul saya perlu bawa gitar trus bikin nyanyian kapsul keras kapsul lunak? Ato pas praktikum rheologi, saya perlu mengajak mereka gerakan bergoyang-goyang menirukan rheologi emulsi dengan aliran pseudoplastis? Wakkzz…

Yang jelas, kalo ada yang nanya nyanyian Jerman apa yang saya paling inget dari acara itu, ini nih, saya beri bocorannya (satu-satunya yang saya inget, at least syairnya, jangan tanya nadanya…) : Halt mich… Küss mich… bitte lass mich mit allein (hug me..kiss me..please don’t leave me … )

The Beer Prayer

April 7th, 2009 by welcome-to-myworld

Our lager,Which art in barrels,Hallowed be thy drink.Thy will be drunk, (I will be drunk),At home as it is in the tavern.Give us this day our foamy head,And forgive us our spillage,As we forgive those who spill against us.And lead us not to incarceration,But deliver us from hangovers.

note: I got this ‘prayer’ from my friend in Melbourne, who loves to join the Beer Club on Friday at 5p.m. Gosh, miss the old times, not about drinking beer, but more for fun. Mingle with others, play UNO (and I never won.. too stupidd…)… miss the Vodka Cruizer, awhahahahaha……

Mein Traumhaus

February 14th, 2009 by welcome-to-myworld

Mein Traumhaus ist grob und alt. Es hat vier Zimmer, eine Küche, ein Badezimmer und einen Flur. Im Wohnzimmer sind ein Sofa, zwei Sessel, ein Tisch und Bücherregale. Die Küche is klein, aber das Esszimmer ist grob. Da stehen ein Tisch und ein Schrank. Im Arbeitszimmer habe ich einen Schreibtisch, einen Computer und ein Regal. Das Schlafzimmer ist ruhig und dunkel. Da steht nur ein Bett. Das Haus hat auch einen Garten. Der Garten ist grob. Im Garten stehen Bäume. Es gibt nur ein Problem: Dieses Haus ist viel zu teuer. Das ist leider alles nur ein Traum !!!

this is the free English translation for the paragraph above :

My Dream House

My dream house is a big and old house. It has four rooms, a kitchen, a bathroom and a living room. In the living room, I have a couch, two armchairs, a table and bookshelves. The kitchen is small, and the dinning room is big with a table and a cupboard in it. In my workroom, I have a desk, a computer and a shelf. My bedroom is quite and dark with a bed in it. The house also has a huge garden with trees on it. However, I only have one problem : this house is too expensive. Therefore, this still only a dream !!!

ps: this paragraph was taken from studio dA1 Deutsch als Fremdsprache - Sprachtraining seite 23. Part of my exercises in learning Deutsch. Ich lerne Deutsch ;p

ValentinE

February 13th, 2009 by welcome-to-myworld

Bicara soal hari yang satu itu, memang agak2 kontroversial antara apa yang saya lihat di Indo dan sewaktu saya di Melben. Justru yang katanya itu trend bangsa barat, justru waktu di Melben, biasa-biasa sajah tuh. Mungkin juga karena sifat latah bangsa Indo yang justru jadi konsumen potensial, maka Valentine lebih dikenal. Sewaktu saya tadi lewat di jalanan protokol Surabaya on my way to Goethe Zentrum (tempat les bahasa Jerman,hehehe), deket Bambu Runcing agak surprise juga ada penjual pernak-pernik Valentine di trotoar. ngejreng warna pinky gitu. Weleh-weleh… yang ginian nih saya barusan aja tau. Trus di tempat les, teman malah bawa coklat dua toples, dibagi-bagikan ke seluruh kelas. Mayan lah… rejeki…ga ditolak,ehehehe… Lucu lagi, pas denger dialog ala anak SMA (maklum, sekitar separo peserta kursus basa Jerman di kelas saya adalah anak ABG, separonya lagi setengah ABG, sprempat ABG, malah udah expired macem saya,hehehe….). dan si cewek ABG ini (ntah dia ada hati ato emang yah, gitulah gaya ABG) pas kita lagi ngerjain latihan (Frau-nya lagi keluar kelas, meninggalkan kita dengan latihan eine/ein/keine..apalah) dengan polosnya bertanya (ato mungkin setengah teriak) sama si cowok ABG di meja sebrang kita (mejanya model U kayak konprensi gitu lah). Dia dengan polosnya tanya : Felix (nama si cowok) , kamu besok ada acara? ……whoaaa…. spontan aja kita2 yang sudah setengah,sprempat bahkan ga ABG blas langsung nyorakin : whaaa…pdkt2… si cewek ini langsung meralat : enggak, maksudku sekolahnya Felix ada acara gak? soale sekolahku ada acara (buset, valentine aja dirayain bak 17an,wkekekek…dasar ABG !!! ). dan kejamnya si cowok (ato malu kali yak? ) pura-pura ga ngeh dan ga ngasih jawaban. kasian deh. makanya trus aku bilang ke si cewek : Felix tuh jawabnya ntar, pas dah bubar, ga pengen jawab di muka umum. Dalem hati saya ketawa…buset, ini sih jaman 10-15 tahun lalu saat saya masih ABG.

Lebih surprise lagi pas pulang, di daerah Kayun yang notabene pusat bunga2 en pusat makanan plus pasar buat kulakan sayur.. kios2 bunga sudah pada beratribut ‘pinky’ semua, bener2 totally Valentine. Yah, mau ga mau saya ngebatin : it’s all about economic. Life trend, supply and demand. Fair enough. bener-bener kontras dengan valentine di melben… ga da gaung2nya blas. di artikel koran aja engga. palingan juga tawaran diskon garing dari supermarket2 atopun resto2 tapi ga sampe segitu hebohnya jualan kembang en parcel valentine. Yah… itulah makanya… Indonesia tetap menjadi negara yang bagus buat nyari duit…at least konsumerisme dan kelatahannya… bener2 worthed,hehehe…

Buat saya sih, ga penting juga Valentine. Tapi itu hak siapa saja buat ngerayain Valentine, merit pas valentine, nembak pasangan pas valentine, ngelamar pas valentine. whatever deh. Mungkin kalo ada yang ngasih saya kembang, coklat plus bunga pas Valentine, lain lagi ngomongnya kali ye? wkekekeke….

Happy Valentine ya….;p

Nyaris !!

December 27th, 2008 by welcome-to-myworld

well, bukan pengalaman yang menyenangkan sih, tapi setidaknya pelajaran berharga untuk berhati-hati dan “always back up your data !!!

jadi, kemarin malam, as usual, saya baca-baca jurnal, nyari ide buat proposal riset. Dan jelasnya, laptop terhubung ke external hd. nah, seperti biasa, saya taruh external HD di sisi depan laptop, deket keyboard (gimana jelasinnya yah? pokoknya gitu deh). Biasanya juga gitu. Sebelumnya saya sudah letakkan di samping laptop, cuma karena ga nyaman aja dan takut kepanasan kena panas laptop, saya pindahkan (jadi inget beli fan cooler buat laptop..). Biasanya juga gitu.

Selesai baca3x… perlu browsing beberapa jurnal. Maka saya berdiri, maksudnya sih mau nyolokin modem ke sumber listrik…ternyata…. glodhakkk !!! upss… external HD jatuh, terjun bebas kesenggol tangan saya…o..oo… yang jatuh external hd, kabel datanya masih menempel dengan manis…huh..

Setengah panik dan berusaha sok pede..saya colokin lagi tuh external HD…la kok… yang muncul malah pesan “unknown device”… harah… jadi feeling awful, langsung keinget kasus external hd saya yang pertama…yang begitu beli langsung ga bisa dipake. ini juga external hd saya dapet exchange dari yang pertama yang rusak itu. Mana tuh ext HD beli di Oz sono, ngga ngisi kartu garansi pula… haduuhhh…

Setelah coba colok cabut ada 3 kali mungkin..saya nyerah…coba restart laptop..tetep… coba turn off trus nyalain..tetep…hwadohhh… panik… saya sms teman….dia bilang, coba aja dulu… haiyaa.. trus telpon temen…eh, dia ternyata juga ngalamin kejadian sama…ext HDnya jatuh..mereknya sama pula, cuman beda kapasitas . dan dia dengan tenangnya bilang kalo kayak gitu, biasanya sih ya “wassalam”… aduh..makin panik. Dia bilang, kalo pas dicolokin ada bunyi2an, kemungkinan besar sudah bener2 “wassalam”.. aduh duh..duh..makin panik aja saya. Yang kepikir pertama sih data-data di dalam situ. Selain kumpulan jurnal, juga ada foto2. benernya sih tuh ext HD adalah back up aja, jadi sumber utama ada..tapi ada banyak file yang saya save langsung kesitu..hwadoh…

Saran temen saya yang satunya lagi via sms,dia bilang, udah..matiin aja tuh laptop, istirahat, besok bawa ke servis komputer yang dia rekomendasikan. Saya udah mikirnya ga karu2an. Ya emang sih, ext hd kemudian saya lepas dari laptop..tapi saya lanjut browsing mulai dari soal ext hd jatuh , data hilang, recovery data,bla3x.. dan pas baca2 soal tarif recov data..alamak… makin pusing aja nih kepala lihat estimasi biaya perbaikan.. trus banyak juga forum2 yang bilang kalo ext hd jatuh..yasud…bubye… hadoohhh… tapi ada juga 1-2 diskusi forum bilang, bisa dicoba dipasang ke casing lain, kalo masih bisa, ya bisa selamat. tapi itu cuma 1-2 dibanding sekian puluh lain yang tidak.. makin cenut2 nih kepala. Akhirnya jam setengah tiga pagi, matiin laptop, berdoa (bener-bener pasrah sama Yang di Atas), trus minum obat sakit kepala campur obat flu karena badan bener2 ga enak. Kepikiran terus. Recov data, beli ext hd baru, bla3x.. haduh…bisa habis sejutaan sendiri,lebih malahan. Pikiran pusing antara recov data ato nongkrong di warnet ngumpulin jurnal. wes, data lain masih bisa dicari sumber asli yang scattered dimana-mana, bahkan di virtual net-nya Monash yang saya masih bisa akses. Yang penting, ngumpulin jurnal2 yang lom sempat di-backup. soalnya kalo download semua dari internet rumah…jebol tagihan deh…uhuhuhu…. Akhirnya…jam tiga berangkat tidur..baru bener2 bisa merem jam setengah empat.

Pagi, jam setengah tujuh, sudah bangun karena tidur setengah nyenyak setengah enggak. Bangun… eh, mama beli pastel. makan dulu..nonton tipi…jam 7 buka laptop, langsung bikin daftar beberapa jurnal yang mau dicari. udah bikin pengelompokan jurnal a,b,c bla3 yang mo dibrowsing en download. sudah penuh deh pikiran. Jam 8…nelpon tempat servis…untungnya buka sampe jam 2. Hmm… mandi… trus ngacir ke tempat servis yang ga jauh dari rumah,sekalian mama nitip beli lauk sarapan di depot dekat tempat servis recommended itu. Disana, nunggu sekitar 15 menit teknisinya cek tuh ext hd…kemudian dia bali…dia bilang dia mo coba ganti casing karena kemungkinan yang rusak itu “rumah luar” external hd, jadi yang dalamnya kemungkinan besar masih bisa diselamatkan. Hmm..agak lega sih..walopun dia bilang belum bisa pastiin. Mesti bongkar casing, apalagi tuh casing asli yang ga ada sekrup2nya blas. Bongkar paksa. Yasud lah… ngalah beli casing baru daripada beli external HD baru. malah lebih nyakitin ati,hehhee… Dia bilang ninggal tuh ext hd sejam, tar dia kabarin.

Ya udah…pulang… tiduran bentar… sejam setengah ditelpon… kabar baikkk…. ternyata cuma ganti casing aja, dalemnya masih utuh. Praise The Lord…Thanks God… biarpun casingnya agak mahal karena yang pas ama standar aslinya yang harga itu… dan harus nunggu tahun depan, gpp deh. Akhirnya dipinjemin dulu casing ama tuh service. Benernya dia bilang kalo mau aku bisa beli tuh casing pinjeman yang notabene 2nd hand tapi masih bagus. Cuma harga yang mereka tawarkan ga jauh beda ama yang baru..ya udah..beli baru aja deh… nanggung banget. Yah, mayan juga seh, total 205 ribu sama ongkos servis… ongkos bongkar en ceknya ga mahal, 55 ribu. Gak apa2 deh.. setidaknya ngga harus beli ext hd baru yang paling murah sekitar 500ribuan, ga termasuk nongkrongin warnet sampe mata pedes.

Yah… at least…itu pengalaman berharga buatku. Take care of my ext HD…bener2 harus dijaga kayak baby… dan satu lagi…siap2 membackup semua data ke CD en USB.. kalo ga…..hadoohhh…. pain in the ass…hehehe…

Thanks God… you give me a precious lesson… from an ext HD..uhuwhwuhu….yah…not to be careless… secara aku agak2 clumsy sama barang2 tekno.. (kalo ga…mana mungkin hp bisa kecebur di toilet..trus ke-flush pula? hihihi…..). kalo hpku pantang deket2 sama air…nah kalo ext hd…pamali terjun bebas,hihihi…

Keep on promise

December 1st, 2008 by welcome-to-myworld

It’s never been easy to keep on promise, even to ourselves. Sometimes we give up or almost give up, to see all the problems that we have to be through.

Complaining? being grumpy? desperate? yeah..sort of… but hey….wait… almost or probably all of the scientists, they were almost gave up or already gave up in their early career, or even in the middle of their established career. So, if I would give up now..even the cat will laugh at me ;p Naa… I never want to stop being a researcher….I know it’s in my blood. Even when people say that curiosity could kill you !! however, dealing with such difficult situations here… It is just …finding a good brilliant idea to propose a precious chance is sometimes damn difficult. Or dealing with those bureaucrazy bureaucrates who do not even give a shit about research, or act as if they do understand and support research…

It is all about stick on our plan, being a loyal person to what we have chosen…one of my best buddy ever told me : never regret what you have chosen, what you have decided, otherwise, you will never be able to see the future and do better. Sometimes, sacrificing what we really want is too damn hurt, but if realize and sure about the benefit of the sacrifice, probably that wouldn’t be hurt that much. However, sometimes we just gambling with that…

Well, a researcher is just a researcher, digging something to be searched again and deeper… a scientist is just a scientist, tries to think in scientific line.. . but never be able to explain how Jesus can change water into wine… probably if they do so, able to explain…they will get noble prize… There is nothing special about research, and your scientific poster will be ended up in the basement, locked there in silence… unless ” you find out how to change water into wine”, just like my 2nd spv ever told me (hei..that’s only a joke from him…dry humor, eh..)

Persistance, determine, perseverance…

Even if you have nothing to do yet…. but those 3 words will help you to find any…and walk on your choice that you’ve chosen

damn…actually, what was I talking about ? ahahaha….silly….just writing what is being so complex in my mind lately….. reading scientific journals too much and still blurry in finding any idea …..